Carilah informasi tentang peristiwa APRA dari berbagai sumber belajar

PORTAL PEKALONGAN - Contoh peristiwa penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sejak awal kemerdekaan sampai akhir orde lama, akan kita pelajari dalam artikel kunci jawaban PKN kelas 9 Tugas Kelompok 1.1 halaman 8.

Pokok bahasan kunci jawaban PKN kelas 9 SMP Tugas Kelompok 1.1 yang bersumber dari buku paket PPKN kelas 9 Kemendikbud ini, akan mengulas tentang contoh peristiwa penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila.

Contoh kunci jawaban PKN kelas 9 halaman 8 ini sebagai referensi untuk belajar. Jadi, sebelum melihat kunci jawaban, sebaiknya adik-adik mencoba mengerjakan sendiri dulu. Dapat juga bertanya kepada orang tua.

Baca Juga: Rangkuman PKN Kelas 9 Bab 1 Semester 1: Dinamika Perwujudan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup

Dilansir Portal Pekalongan dari buku PPKN kelas 9 SMP Kemendikbud, dan dipandu oleh Hesti Ayu Lestari, S.Pd, alumnus Universitas PGRI Semarang, berikut kunci jawaban PKN Kelas 9 Tugas Kelompok 1.1 halaman 8.

Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 8

1. Pilihlah salah satu contoh peristiwa penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sejak awal kemerdekaan sampai akhir Orde Lama.2. Susun pertanyaan yang ingin kamu ketahui sesuai topik yang dipilih.

3. Carilah informasi tentang peristiwa tersebut dari berbagai sumber

belajar.4. Diskusikan dengan kelompokmu, hubungkan berbagai informasi yang

kamu peroleh dan buatlah kesimpulan tentang peristiwa tersebut.

5. Susun laporan hasil telaah kelompokmu secara tertulis, dan sajikan di

depan kelas.

Baca Juga: Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 2 Tabel Makna Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup

Jawaban:

Adanya peristiwa penyimpangan terhadap sila ke-4 Pancasila, yang berisi tentang azas pencapaian kata mufakat dengan musyawarah.

Sumber: Buku Paket PPKN Kelas 9 Kurikulum 2013 Revisi 2018


Page 2

Pada Sejak awal kemerdekaan sampai akhir orde lama, Indonesia menganut sistem demokrasi parlementer yang mengekang fungsi presideen sebagai kepala negara saja, sementara perdana menteri berlaku sebagai kepala pemerintahan.

Hal tersebut mengakibatkan lemahnya stabilitas pemerintahan, terutama pengamalan sila ke-4 Pancasila.

Baca Juga: Kunci Jawaban PKN Kelas 9 SMP/MTs Halaman 2 Makna Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup

Itu tadi contoh kunci jawaban PKN kelas 9 SMP halaman 8 Tugas Kelompok 1.1 contoh peristiwa penyimpangan Pancasila. Semangat belajar.

Disclaimer: kunci jawaban PKN ini adalah referensi untuk belajar dan bersifat tidak mutlak. Adik-adik bisa bereksplorasi dengan jawaban lain.

Kunci jawaban PKN kelas 9 Tugas Kelompok 1.1 halaman 8 tentang contoh peristiwa penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sejak awal kemerdekaan sampai akhir orde lama ini, adalah materi dalam Buku paket PPKN kelas 9 SMP/MTs Kurikulum 2013 Kemendikbud.***

Sumber: Buku Paket PPKN Kelas 9 Kurikulum 2013 Revisi 2018

Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
Kudeta 23 JanuariBagian dari Revolusi Nasional Indonesia
Para prajurit TNI yang tewas dalam Peristiwa Kudeta APRA
Tanggal22 Januari–23 Januari 1950[2]
LokasiBandung dan Jakarta, Jawa
Hasil Pendudukan sementara Bandung oleh Tentara APRA [3]
Percepatan integrasi negara-negara bagian Republik Indonesia Serikat ke dalam Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1950.[4]
Pihak terlibat
Carilah informasi tentang peristiwa APRA dari berbagai sumber belajar
TNI
[1]
Carilah informasi tentang peristiwa APRA dari berbagai sumber belajar
Tentara APRATokoh dan pemimpin Kolonel Sadikin [5]
[6]
Adolf Gustaaf Lembong   Raymond Westerling [5]
Letnan tak teridentifikasi[5]Kekuatan Divisi Siliwangi[2]
4,500 Prajurit TNI[3] 523 prajurit APRA [3]Korban Sekitar 100 jiwa[3] Ringan[3]

Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau Kudeta 23 Januari adalah peristiwa yang terjadi pada 23 Januari 1950 di mana kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ada di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling yang juga mantan komandan Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus) KNIL, masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui. Aksi gerombolan ini telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.

Latar depan

Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan, bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah "Ratu Adil Persatuan Indonesia" (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Pengikutnya kebanyakan adalah mantan anggota KNIL dan yang melakukan desersi dari pasukan khusus KST/RST. Dia juga mendapat bantuan dari temannya orang Tionghoa, Chia Piet Kay, yang dikenalnya sejak berada di kota Medan.

Pada 5 Maret malam, sekitar pukul 20.00 Westerling menelepon Letnan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda, pengganti Letnan Jenderal Spoor. Westerling menanyakan bagaimana pendapat van Vreeden, apabila setelah penyerahan kedaulatan Westerling berencana melakukan kudeta terhadap Soekarno dan kliknya. Van Vreeden memang telah mendengar berbagai kabar, antara lain ada sekelompok militer yang akan mengganggu jalannya penyerahan kedaulatan. Juga dia telah mendengar mengenai kelompoknya Westerling.

Jenderal van Vreeden, sebagai yang harus bertanggung-jawab atas kelancaran "penyerahan kedaulatan" pada 27 Desember 1949, memperingatkan Westerling agar tidak melakukan tindakan tersebut, tetapi van Vreeden tidak segera memerintahkan penangkapan Westerling.

Surat ultimatum

Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang isinya adalah suatu ultimatum. Ia menuntut agar Pemerintah RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalam waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar.

Ultimatum Westerling ini tentu menimbulkan kegelisahan tidak saja di kalangan RIS, tetapi juga di pihak Belanda dan dr. H.M. Hirschfeld (kelahiran Jerman), Nederlandse Hoge Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) yang baru tiba di Indonesia. Kabinet RIS menghujani Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi sangat tidak nyaman. Menteri Dalam Negeri Belanda, Stikker menginstruksikan kepada Hirschfeld untuk menindak semua pejabat sipil dan militer Belanda yang bekerja sama dengan Westerling.

Pada 10 Januari 1950, Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa pihak Indonesia telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling. Sebelum itu, ketika A.H.J. Lovink masih menjabat sebagai Wakil Tinggi Mahkota Kerajaan Belanda, dia telah menyarankan Hatta untuk mengenakan pasal exorbitante rechten terhadap Westerling. Saat itu Westerling mengunjungi Sultan Hamid II di Hotel Des Indes, Jakarta. Sebelumnya, mereka pernah bertemu bulan Desember 1949. Westerling menerangkan tujuannya, dan meminta Hamid menjadi pemimpin gerakan mereka. Hamid ingin mengetahui secara rinci mengenai organisasi Westerling tersebut. Namun dia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan dari Westerling. Pertemuan hari itu tidak membuahkan hasil apapun. Setelah itu tak jelas pertemuan berikutnya antara Westerling dengan Hamid. Dalam otobiografinya, Mémoires, yang terbit tahun 1952, Westerling menulis, bahwa telah dibentuk Kabinet Bayangan di bawah pimpinan Sultan Hamid II dari Pontianak, oleh karena itu dia harus merahasiakannya.

Pertengahan Januari 1950, Menteri UNI dan Urusan Provinsi Seberang Lautan, Mr. J.H. van Maarseveen berkunjung ke Indonesia untuk mempersiapkan pertemuan Uni Indonesia-Belanda yang akan diselenggarakan pada bulan Maret 1950. Hatta menyampaikan kepada Maarseven, bahwa dia telah memerintahkan kepolisian untuk menangkap Westerling.

Ketika berkunjung ke Belanda, Menteri Perekonomian RIS Juanda pada 20 Januari 1950 menyampaikan kepada Menteri Götzen, agar pasukan elit RST yang dipandang sebagai faktor risiko, secepatnya dievakuasi dari Indonesia. Sebelum itu, satu unit pasukan RST telah dievakuasi ke Ambon dan tiba di Ambon tanggal 17 Januari 1950. Pada 21 Januari Hirschfeld menyampaikan kepada Götzen bahwa Jenderal Buurman van Vreeden dan Menteri Pertahanan Belanda Schokking telah menggodok rencana untuk evakuasi pasukan RST.

Desersi

Pada 22 Januari pukul 21.00 dia telah menerima laporan, bahwa sejumlah anggota pasukan RST dengan persenjataan berat telah melakukan desersi dan meninggalkan tangsi militer di Batujajar.

Mayor KNIL G.H. Christian dan Kapten KNIL J.H.W. Nix melaporkan, bahwa kompi "Erik" yang berada di Kampemenstraat malam itu juga akan melakukan desersi dan bergabung dengan APRA untuk ikut dalam kudeta, tetapi dapat digagalkan oleh komandannya sendiri, Kapten G.H.O. de Witt. Engles segera membunyikan alarm besar. Dia mengontak Letnan Kolonel TNI Sadikin, Panglima Divisi Siliwangi. Engles juga melaporkan kejadian ini kepada Jenderal Buurman van Vreeden di Jakarta.

Antara pukul 8.00 dan 9.00 dia menerima kedatangan komandan RST Letkol Borghouts, yang sangat terpukul akibat desersi anggota pasukannya. Pukul 9.00 Engles menerima kunjungan Letkol. Sadikin. Ketika dilakukan apel pasukan RST di Batujajar pada siang hari, ternyata 140 orang yang tidak hadir. Dari kamp di Purabaya dilaporkan, bahwa 190 tentara telah desersi, dan dari SOP di Cimahi dilaporkan, bahwa 12 tentara asal Ambon telah desersi.

Kudeta

Namun upaya mengevakuasi Regiment Speciale Troepen (RST), gabungan baret merah dan baret hijau telah terlambat untuk dilakukan. Dari beberapa bekas anak buahnya, Westerling mendengar mengenai rencana tersebut, dan sebelum deportasi pasukan RST ke Belanda dimulai, pada 23 Januari 1950, Westerling melancarkan kudetanya. Subuh pukul 4.30, Letnan Kolonel KNIL T. Cassa menelepon Jenderal Engles dan melaporkan: "Satu pasukan kuat APRA bergerak melalui Jalan Pos Besar menuju Bandung."

Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temukan di jalan. 94 anggota TNI tewas dalam pembantaian tersebut, termasuk Letnan Kolonel Lembong, sedangkan di pihak APRA, tak ada korban seorang pun.

Sementara Westerling memimpin penyerangan di Bandung, sejumlah anggota pasukan RST dipimpin oleh Sersan Meijer menuju Jakarta dengan maksud untuk menangkap Presiden Soekarno dan menduduki gedung-gedung pemerintahan. Namun dukungan dari pasukan KNIL lain dan Tentara Islam Indonesia (TII) yang diharapkan Westerling tidak muncul, sehingga serangan ke Jakarta gagal dilakukan.

Setelah melakukan pembantaian di Bandung, seluruh pasukan RST dan satuan-satuan yang mendukungnya kembali ke tangsi masing-masing. Westerling sendiri berangkat ke Jakarta, dan pada 24 Januari 1950 bertemu lagi dengan Sultan Hamid II di Hotel Des Indes. Hamid yang didampingi oleh sekretarisnya, dr. J. Kiers, melancarkan kritik terhadap Westerling atas kegagalannya dan menyalahkan Westerling telah membuat kesalahan besar di Bandung. Tak ada perdebatan, dan sesaat kemudian Westerling pergi meninggalkan hotel.

Setelah itu terdengar berita bahwa Westerling merencanakan untuk mengulang tindakannya. Pada 25 Januari, Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa Westerling, didukung oleh RST dan Darul Islam, akan menyerbu Jakarta. Engles juga menerima laporan, bahwa Westerling melakukan konsolidasi para pengikutnya di Garut, salah satu basis Darul Islam waktu itu.

Aksi militer yang dilancarkan oleh Westerling bersama APRA yang antara lain terdiri dari pasukan elit tentara Belanda, menjadi berita utama media massa di seluruh dunia. Hugh Laming, koresponden Kantor Berita Reuters yang pertama melansir pada 23 Januari 1950 dengan berita yang sensasional. Osmar White, jurnalis Australia dari Melbourne Sun memberitakan di halaman muka: "Suatu krisis dengan skala internasional telah melanda Asia Tenggara." Duta Besar Belanda di Amerika Serikat, van Kleffens melaporkan bahwa di mata orang Amerika, Belanda secara licik sekali lagi telah mengelabui Indonesia, dan serangan di Bandung dilakukan oleh "de zwarte hand van Nederland" (tangan hitam dari Belanda).

Rujukan

  • Kahin, George McTurnan (1952). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca, N.Y.: Cornell University Press. ISBN 0-8014-9108-8. 
  • Westerling, Raymond Paul Pierre (1952). Mes aventures en Indonesie (dalam bahasa Prancis).  – diterjemahkan dari bahasa Prancis ke Inggris oleh Waverley Root sebagai – Challenge to terror. London: W. Kimber. 

Pranala luar

  • Pembantaian Westerling II

Referensi

  1. ^ Westerling (1952), p. 170
  2. ^ a b Westerling (1952), p. 180-81
  3. ^ a b c d e Westerling (1952), p. 189
  4. ^ Kahin (1952), p. 456
  5. ^ a b c Westerling (1952), p. 183
  6. ^ Kahin (1952), p. 454

Carilah informasi tentang peristiwa APRA dari berbagai sumber belajar

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kudeta_APRA&oldid=21505912"


Page 2

5 Maret adalah hari ke-64 (hari ke-65 dalam tahun kabisat) dalam kalender Gregorian.

1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31  

Peristiwa

  • 363 - Kaisar Romawi Julianus bergerak dari Antiokhia dengan 90.000 tentara menyerang Kekaisaran Sassaniyah, dalam kampanye yang akan membawanya kepada kematiannya sendiri.
  • 1279 - Ordo Livonia kalah dalam Pertempuran Aizkraukle oleh Kadipaten Agung Lithuania.
  • 1496 - Raja Henry VII dari Inggris menerbitkan surat hak paten kepada John Cabot dan putranya, memberi mereka kuasa untuk menjelajah daerah-daerah yang belum dikenal.
  • 1616 - Buku Nicolaus Copernicus "On the Revolutions of the Heavenly Spheres" ditambahkan ke dalam Index of Forbidden Books 73 tahun setelah pertama kali diterbitkan.
  • 1766 - Antonio de Ulloa, gubernur Spanyol pertama untuk Louisiana, tiba di New Orleans.
  • 1770 - Pembantaian Boston: 5 orang Amerika, termasuk Crispus Attucks, ditembak mati oleh oleh tentara Inggris dalam sebuah insiden yang memicu meletusnya Perang Kemerdekaan Amerika 5 tahun kemudian.
  • 1811 - Perang Peninsular: Pasukan Prancis di bawah pimpinan Marshal Claude Victor-Perrin dikerahkan untuk menahan serangan pasukan gabungan Inggris-Spanyol-Portugis yang berusaha menembus Pengepungan Cádiz dalam Pertempuran Barrosa.
  • 1824 - Perang Inggris-Burma Pertama: Inggris resmi menyatakan perang kepada Burma.
  • 1836 - Samuel Colt mempatenkan pistol revolver produksi pertamanya, kaliber .34.
  • 1850 - Jembatan Britannia melintasi Selat Menai yang menghubungkan pulau Anglesey dan daratan utama Wales resmi dibuka.
  • 1860 - Parma, Tuscany, Modena dan Romagna melakukan referendum untuk memilih bergabung dengan Kerajaan Sardinia.
  • 1872 - George Westinghouse mempatenkan rem angin.
  • 1906 - Pemberontakan Moro: tentara Angkatan Darat Amerika Serikat kewalahan menghadapi perlawanan Bangsa Moro dalam Pertempuran Bud Dajo, hanya 6 orang selamat.
  • 1912 - Perang Italia-Turki: Pasukan Italia menjadi yang pertama kali menggunakan kapal udara militer untuk pengintaian di garis belakang Turki.
  • 1931 - Raja Muda Inggris di India, Gubernur Jenderal Edward Frederick Lindley Wood, dan Mohandas Karamchand Gandhi (Mahatma Gandhi) menandatangani kesepakatan pembebasan tahanan politik dan membebaskan penggunaan garam oleh anggota masyarakat termiskin di India.
  • 1933 - Great Depression: Presiden AS Franklin D. Roosevelt mengumumkan "bank holiday", menutup seluruh bank dan menghentikan seluruh transaksi finansial di seluru Amerika Serikat.
  • 1933 - Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler meraih 43.9% suara dalam pemilihan parlemen Jerman (Reichstag), yang selanjutnya memungkinkan kaum Nazi untuk mengesahkan Ermächtigungsgesetz dan membentuk kediktatoran.
  • 1936 - Penerbangan perdana pesawat tempur bersayap tunggal tingkat lanjut Supermarine Spitfire di Inggris.
  • 1940 - 6 anggota tingkat tinggi politbiro Uni Soviet, termasuk Sekretaris Jenderal Joseph Stalin, menandatangani surat perintah pengeksekusian 25.700 intelektual Polandia, termasuk 14.700 tawanan perang, dalam apa yang selanjutnya dikenal sebagai Pembantaian Katyn.
  • 1942 - A.A. Hamidhan menerbitkan surat kabar Kalimantan Raya di Banjarmasin.
  • 1942 - Perang Dunia II: Ibu kota Hindia Belanda, Batavia, direbut oleh tentara ke-16 Kekaisaran Jepang, setelah ditinggalkan tanpa pertahanan oleh garnisun KNIL dan batalyon Blackforce Australia yang mundur ke Buitenzorg dan Bandung.
  • 1943 - Penerbangan perdana pesawat jet Gloster Meteor di Inggris.
  • 1944 - Perang Dunia II: Tentara Merah Uni Soviet memulai ofensif Uman–Botoșani di Ukraina barat.\
  • 1948 - Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 42 tentang Palestina diadopsi.
  • 1960 - Fotografer Kuba Alberto Korda membuat foto tokoh revolusi Ernesto "Che" Guevara yang kemudian menjadi ikonik.
  • 1960 - Soekarno membubarkan DPR hasil Pemilu 1955, selanjutnya digantikan DPR-GR.
  • 1970 - Perjanjian Nonproliferasi Nuklir mulai berlaku.
  • 1979 - Republik Rakyat Tiongkok menarik pasukannya dari Vietnam Selatan.
  • 2014 - Penemuan mayat Ade Sara yang merupakan korban kasus pembunuhan.
  • 2022 - Kerusuhan Querétaro–Atlas terjadi di Stadion Corregidora, Meksiko, pada kompetisi Liga MX yang mengakibatkan 26 orang terluka.

Kelahiran

  • 1887 - Heitor Villa-Lobos, komponis musik klasik dari Brasil (w. 1959).
  • 1898 - Zhou Enlai, Perdana Menteri Tiongkok (w. 1976).
  • 1909 - Sutan Syahrir, pahlawan nasional Indonesia (w. 1966).
  • 1938 - Raja Inal Siregar, Gubernur Sumatra Utara (1988 - 1998) (w. 2005).
  • 1939 - Benyamin Suaeb, seniman Indonesia, tokoh seni tradisional Betawi (w. 1995).
  • 1942 - Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Bersatu.
  • 1955 - Deddy Mizwar, aktor dan sutradara Indonesia, Wakil Gubernur Jawa Barat 2013-2018.
  • 1956 - Basuki, pelawak Indonesia (w. 2007).
  • 1987 - Reza Rahadian, Aktor Indonesia.
  • 1989 - Jonathan Cristaldo, pemain sepak bola Argentina
  • 1997 - Dahlia Poland, Aktris Indonesia.
  • 1999 - Madison Beer, penyanyi Amerika Serikat.
  • 1999 - Martha Graciela, mantan anggota grup idola Indonesia JKT48
  • 2001 - Malida Dinda, aktris Indonesia

Meninggal

  • 1827 - Pierre-Simon de Laplace, ahli matematika dan astronom Prancis (l. 1749).
  • 1953 - Josef Stalin, pemimpin Uni Soviet (l. 1878).
  • 2013 - Hugo Chávez, pemimpin Venezuela (l. 1954).

Hari raya dan peringatan

  • 1989 - Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1409 Hijriah.
  • 2001 - Idul Adha 1421 Hijriah.
  • 2011 - Nyepi Saka 1933.
  • 2028 - Idul Fitri (2 Syawal 1449 H)
Carilah informasi tentang peristiwa APRA dari berbagai sumber belajar

4 Maret - 5 Maret - 6 Maret

Carilah informasi tentang peristiwa APRA dari berbagai sumber belajar

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=5_Maret&oldid=21172386"